UNTUK MIMPI, DARI HARAPAN
Bayangkan, jam empat pagi shubuh aku sudah bangun dari mimpi-mimpi indah yang telah kurajut, yang kutaruh lima sentimeter didepanku.
Dibangunkan oleh sesosok pria perkasa dan pekerja keras, Ayahku.
Akupun disambut dengan sapaan selamat shubuh dari sesosok wanita yang luarbiasa menyayangi dan mengasihiku, ibuku.
Akupun bergegas mengganti bajuku dengan baju batik muslim.
Aku memilih batik bercorakan garis hijau tua dan celana panjang hitam untuk bersiap-siap pergi ke Masjid bersama kedua orang tuaku.
Pergi bersama dalam keadaan kampungku yang masih gelap gulita.
Hanya lampu-lampu lima watt rumah penduduk yang membantu penglihatan kami. Sembari diiringi lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an, yang diputarkan oleh gharin masjid untuk membangunkan umat muslim untuk sholat shubuh berjamaah. Setibanya di masjid, aku membasahi seluruh badanku dengan air panas alami yang langsung mengalir dari gunung Marapi. Setelah itu, Akupun mengambil wudhu’ dan melaksanakan sholat shubuh berjamaah bersama orang-orang yang berkesempatan hadir di shubuh ini. Selesai sholat, mengajarkan adik-adik didikan shubuh tentang agama dan syariatnya. Penuh canda tawa, pengetahuan Islam, beserta kepolosan dan semangat rasa ingin tahu mereka yang besar. Bahkan, tak jarang mereka yang masih berumuran enam hingga delapan tahun pun ikut serta dalam acara Didikan shubuh ini. Jam Delapan pagi menandakan kegiatan ini berakhir dan waktunya untuk pulang. Pulang bersama teman-teman terbaik dan adik-adik tersayangku menuju rumah masing-masing. Sambil berusaha merebut sepotong dua potong “bakwan” dari warung-warung terdekat. Bagi yang tidak memiliki uang biasanya akan ditraktir oleh yang punya uang lebih. Atau sering kali sepotong bakwan akan dibagi menjadi dua potong atau tiga potong bagian untuk dinikmati bersama. Dan bahkan ketua Remaja Masjid kami acap kali membayarkan semua bakwan yang ada untuk kami. Paling tidak cukuplah untuk mengganjal perut-perut kami sebelum tiba di rumah. Di sepanjang jalan pulangpun kami tak terlepas dari canda ria, saling curhatan, dan bernyanyi bersama. Sesampainya di rumah sederhanaku, bersama kedua orang tuaku dalam merajut cinta dalam suka dan duka. Ayah dan ibukupun dengan sabarnya menunggu kepulanganku untuk bisa menikmati sarapan pagi bersama, sebelum mereka pergi bekerja atau melakukan aktivitas lain. Menikmati makanan terenak diantara makanan terenak yang pernah diciptakan oleh manusia. Bahkan makanan kami ini telah diakui dan disukai oleh seluruh masyarakat dunia. Ya, apalagi kalau bukan Randang Minang. Ibuku memang pintar sekali memasak berbagi jenis makanan apapun. Maka tidaklah mengherankan, jika ayahku begitu betah mengisi perutnya dirumah. Bahkan pernah ada kejadian sewaktu ayahku lupa membawa bekal makan siangnya sewaktu bekerja. Beliau bela-belaan balik pulang kerumah hanya untuk bekalnya itu. Padahal tempat kerja beliau dengan rumah memiliki jarak yang cukup jauh. Menjelang siang datang, aku biasanya pergi ke sungai atau biasanya orang kampungku menyebutnya “pumatang”. Pumatang ini berada tepat ditengah-tengah persawahan luas yang hijau. Pumatang ini memiliki air yang sangat jernih dan bening. Ikan-ikan berkeliaran disepanjang arus pumatang yang cukup deras. Disinilah aku dan teman-temanku sering menghabiskan waktu siang. Mencuci baju, berenang, mandi bersama, dan menangkap ikan-ikan kapareh kecil. Dengan pancaran sinar matahari siang yang hangat dan memberikan rasa nyaman ketika berada didalam air. Inilah yang membuat kami kenapa betah lama-lama disini. Tuhan, itu waktu yang indah sekali. Terima kasih atas semua ini. Nikmat dan anugerahmu begitu besar dan luarbiasa kurasakan saat ini. Andai kata aku bisa kembali ke masa-masa itu, tapi sekarang sedikit mustahil. Kehidupan baruku di kota besar telah memberiku beberapa tuntutan. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dan semua orang yang menyayangi dan mencintaiku. Aku ingin membalas semua jasa-jasa mereka, walaupun aku tahu aku takkan pernah bisa membalasnya satu persatu. Aku takkan pulang sebelum aku mengalami perkembangan dan perubahan yang berarti. Aku berjanji, aku akan mengukir banyak prestasi untuk mereka. Karena aku, memiliki sejuta mimipi-mimpi indah yang akan kuwujudkan bersama mereka semua. |
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/2319/untuk_mimpi_dari_harapan#.UqRDfC0twAk.facebook

Komentar
Posting Komentar