Mimpi sepi
satu bulan penuh. lebih beberapa hari saja. semenjak hari terakhir aku tak melihat wajah yang satu itu.
bahkan aku pun sudah lupa bagaimana bentuk dan rupawan wajahnya yang mengikat itu. memang benar. sulit sekali untuk mengingatnya. atau susah sekali hanya untuk sekedar melihatnya.
telah ku usahakan agar memoriku ini kembali bergerak menuju masa disaat aku pertama dan terkahir kali berpapasan dengannya.
menatap wajah dan rupanya. sembari kulayangkan pandanganku kepada sesosok wujud yang selalu bergenggaman dengannya.
tapi tetap saja. daya ingatku tak kuasa sama sekali untuk merujuk apa yang pernah terlintas dalam urat syarafnya.
hari itu bertepatan dengan hari aku merasakan keadaan sekelilingku berubah cerah.
aku telah kembali memandang wajah-wajah lama yang telah lama hinggap dan bersemayam dalam sekali dalam sanubariku.
kolam itu. jalan itu. pondokan itu. rumputan itu. jelas sekali terekam dalam memoriku.
terutama rumah kecil sederhana itu. bercat orange berpagar bunga nan tak pernah mekar.
pohon limau. kandang ayam itu. semuanya!
tapi sayang, aku tak ingat sekali ini dimana dan apa!
beribu tanya telah kulontarkan sekeras suara yang bisa ku teriaki dari pangkal lidah kelu, pucat, dan pasi ini!
tapi tak kudengar ada suara sedekitpun yang menyentuh gendang telingaku
apa kalian bisu atau kalian berpura-pura bisu ketika melihat kedatanganku tanpa sehelai benang ini?
jawab aku agar aku tahu dimana yang salah.
apa yang telah kulakukan dan apa yang telah kalian lakukan hingga aku tak tahu siapa namaku sendiri?
siapa aku? apa aku? dimana aku? kenapa aku bisa disini? dan bagaimana aku bisa ketempat ini?
tubuhku kurus dan bergetar layaknya gempa bumi dahsyat tengah terjadi
bergelonjak didalam badan lemahku ini. sendiri!
benda bulat itu. bergerak cepat sekali dari ufuk barat ke timur
benda setengah bulat itu. bergerak lambat sekali dari ujung utara ke ujung selatan.
itulah tontonan gratisku tiap hari dan tiap malam disini
memopoh badanku yang kurasakan semakin lesu dan lemah
pelarianku dari tempat terakhir ku melihat tempat itu sangat membuahkan hasil
hujan panas harus menjadi teman dan pendamping laraku ditengah tak ada satupun suara dan makhluk serupa denganku yang merasakan hal serupa yang aku alami saat ini
disini sepi. dingin. panas. berangin. tak bergetar dan tiba-tiba diam
kota mati atau desa mati? tepatnya semua mati kecuali aku dan mereka
mereka yang selalu kulihat seiring benda-benda bulat itu muncul dan hilang
onggokan barang-barang bekas tak berguna dan mati
tentu saja mereka tak bernyawa.
tak ada orang disini. aku pun tak tahu apakah aku orang atau tidak?
seingatku aku tak pernah dipanggil sebagai orang oleh siapapun
seingatku aku tak pernah dipanggil apa-apa
tanpa tangan dan tanpa kaki
bertubuh tapi tak sempurna pikirku. satu organ saja yang ada disebelah kiri bagian bawah wajahku
ia berdenyut dan bergerak
jelas sekali aku melihat cairan berwarna merah mengalir keluar masuk dari rongganya yang tepat berselang ke kepalaku
dia bergerak sendiri seperti ia ialah temanku satu-satunya
tapi sayang, dia hanya bisa mengikutiku tanpa bersuara sepertiku
kenapa hanya dia yang ada dibawah kepalaku? apa dia tak punya teman? sama sepertiku?
kelihatannya begitu
sekarang aku tahu. aku tak sendiri lagi. aku bersama benda bergerak ini. benda berbicara ini. dan benda melihat ini. hanya itu.
semoga saja aku cepat bangun dari mimpi yang sepi ini.
bahkan aku pun sudah lupa bagaimana bentuk dan rupawan wajahnya yang mengikat itu. memang benar. sulit sekali untuk mengingatnya. atau susah sekali hanya untuk sekedar melihatnya.
telah ku usahakan agar memoriku ini kembali bergerak menuju masa disaat aku pertama dan terkahir kali berpapasan dengannya.
menatap wajah dan rupanya. sembari kulayangkan pandanganku kepada sesosok wujud yang selalu bergenggaman dengannya.
tapi tetap saja. daya ingatku tak kuasa sama sekali untuk merujuk apa yang pernah terlintas dalam urat syarafnya.
hari itu bertepatan dengan hari aku merasakan keadaan sekelilingku berubah cerah.
aku telah kembali memandang wajah-wajah lama yang telah lama hinggap dan bersemayam dalam sekali dalam sanubariku.
kolam itu. jalan itu. pondokan itu. rumputan itu. jelas sekali terekam dalam memoriku.
terutama rumah kecil sederhana itu. bercat orange berpagar bunga nan tak pernah mekar.
pohon limau. kandang ayam itu. semuanya!
tapi sayang, aku tak ingat sekali ini dimana dan apa!
beribu tanya telah kulontarkan sekeras suara yang bisa ku teriaki dari pangkal lidah kelu, pucat, dan pasi ini!
tapi tak kudengar ada suara sedekitpun yang menyentuh gendang telingaku
apa kalian bisu atau kalian berpura-pura bisu ketika melihat kedatanganku tanpa sehelai benang ini?
jawab aku agar aku tahu dimana yang salah.
apa yang telah kulakukan dan apa yang telah kalian lakukan hingga aku tak tahu siapa namaku sendiri?
siapa aku? apa aku? dimana aku? kenapa aku bisa disini? dan bagaimana aku bisa ketempat ini?
tubuhku kurus dan bergetar layaknya gempa bumi dahsyat tengah terjadi
bergelonjak didalam badan lemahku ini. sendiri!
benda bulat itu. bergerak cepat sekali dari ufuk barat ke timur
benda setengah bulat itu. bergerak lambat sekali dari ujung utara ke ujung selatan.
itulah tontonan gratisku tiap hari dan tiap malam disini
memopoh badanku yang kurasakan semakin lesu dan lemah
pelarianku dari tempat terakhir ku melihat tempat itu sangat membuahkan hasil
hujan panas harus menjadi teman dan pendamping laraku ditengah tak ada satupun suara dan makhluk serupa denganku yang merasakan hal serupa yang aku alami saat ini
disini sepi. dingin. panas. berangin. tak bergetar dan tiba-tiba diam
kota mati atau desa mati? tepatnya semua mati kecuali aku dan mereka
mereka yang selalu kulihat seiring benda-benda bulat itu muncul dan hilang
onggokan barang-barang bekas tak berguna dan mati
tentu saja mereka tak bernyawa.
tak ada orang disini. aku pun tak tahu apakah aku orang atau tidak?
seingatku aku tak pernah dipanggil sebagai orang oleh siapapun
seingatku aku tak pernah dipanggil apa-apa
tanpa tangan dan tanpa kaki
bertubuh tapi tak sempurna pikirku. satu organ saja yang ada disebelah kiri bagian bawah wajahku
ia berdenyut dan bergerak
jelas sekali aku melihat cairan berwarna merah mengalir keluar masuk dari rongganya yang tepat berselang ke kepalaku
dia bergerak sendiri seperti ia ialah temanku satu-satunya
tapi sayang, dia hanya bisa mengikutiku tanpa bersuara sepertiku
kenapa hanya dia yang ada dibawah kepalaku? apa dia tak punya teman? sama sepertiku?
kelihatannya begitu
sekarang aku tahu. aku tak sendiri lagi. aku bersama benda bergerak ini. benda berbicara ini. dan benda melihat ini. hanya itu.
semoga saja aku cepat bangun dari mimpi yang sepi ini.

Komentar
Posting Komentar